Fakta dan Opini
Fakta merupakan suatu hal/ informasi yang dapat dibuktikan kebenarannya. Fakta tidak dapat dilebih-lebihkan, serta dikurangi. Fakta yang didefinisikan harus dapat diuji, diukur, diamati, bahkan dibuktikan. Kumpulan segala fakta disebut data. Suryanto (2007: 149) mengatakan bahwa fakta adalah keadaan atau peristiwa yang merupakan kenyataan. Fakta merupakan sesuatu yang benar dengan didukung bukti.
Adapun ciri-ciri fakta diantaranya:
a. isi fakta sesuai dengan kenyataan yang terjadi
b. pengungkapan fakta yang disajikan dalam bentuk deskriptif atau apa adanya
c. penalaran fakta cenderung induktif
d. dikemukakan oleh informan yang terpercaya
Opini merupakan gagasan, perkiraan, pikiran, dan pendapat seseorang. Dari segi penyajiannya, opini kerap kali bersifat tidak tetap. Dalam artian, suatu opini dapat berubah sesuai dengan keadaan yang berlaku serta kritikan/ saran yang dikemukakan orang lain. Opini juga dapat muncul ketika menanggapi rangsangan yang telah disusun melalui interpretasi pribadi. Maka dari itu, penilaian seseorang tidak dapat didukung dengan fakta atau pengetahuan posituf.
Menurut Suyono (2007: 158), ciri-ciri opini terdiri dari:
a. karena opini bersifat subjektif, maka cenderung tidak dapat dibuktikan kebenarannya
b. opini berasal dari pemikiran sendiri (idak ada narasumber)
c. tidak memiliki data yang akurat
d. kalimat opini biasa diawali dengan, “menurut saya..”, “sepertinya..”, dll. Sehingga, data yang dihasilkan dari opini seseorang belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Menurut Heriawan (2012: 173), terdapat beberapa cara untuk membedakan antara fakta dan opini. Berikut diantaranya:
1. bacalah isi dari kalimat tersebut. Jika kalimatnya dipaparkan beserta data dan bukti, maka itu merupakan fakta. Namun jika tidak menyertakan data pendukung, maka itu dapat disebut dengan opini.
2. berdasarkan segi kemanfaatannya, fakta dan opini memiliki posisi berbeda. Fakta bermanfaat untuk menambah pemahaman dan melengkapi informasi. Sedangan opini bermanfaat untuk dapat lebih memahami suatu hal dalam bentuk laporan atau berita.
Dari pernyataan diatas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa fakta dan opini tentu berbeda. Jika menyebut kata “fakta”, maka yang terlintas dipikiran kita adalah seputar kebenaran yang dapat dibuktikan. Sedangkan opini lebih merujuk kepada pandangan seseorang yang bersifat subjektif dan dapat berubah-ubah.
Agar lebih memudahkan dalam pemahaman mengenai fakta dan opini, maka penulis juga menyebutkan contoh keduanya.
Berita mengenai kebakaran yang terjadi di kompleks Alamadi.
Contoh fakta: Presiden Indonesia setelah masa jabatan Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono adalah Ir. H. Joko Widodo.
Contoh opini: Prabowo Subianto menempati posisi terkuat sebagai calon presiden 2024. Kemudian disusul Gubernur Jawa Tengah yakni Ganjar Pranowo di posisi kedua.
Sumber:
Heryanto, Gun Gun, dkk, literasi Politik. Yogyakarta: IRCiSoD, 2019.
Risda (2019), Kemampuan Menentukan Fakta dan Opinida Teks Berita Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Sigi Biromaru. Jurnal Bahasa dan Sastra Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tandulako. 4 (2)
Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008.
Komentar
Posting Komentar